Hanya 80-an Lin Kuning Jember yang Laik Jalan, Lainnya Bagaimana?
Kepatuhan pemilik dan pengemudi lin kuning mengurus KIR masih bisa dihitung. Itu terlihat dari jumlah lin kuning yang dinyatakan laik jalan. Tetapi, secara umum, jumlah lin yang beroperasi di jalan itu dibiarkan ala kadarnya.
Yono, salah satu pengemudi lin mengatakan, biaya perawatan lin memang tidak sedikit. Hal itu dirasakan cukup berat untuk mengurus lin agar bisa cantik dan menarik minat masyarakat.
Alasannya jumlah penumpang sehari-harinya menurun cukup drastis. Artinya pendapatan sehari-hari yang didapat tidak sebanding dengan pengeluaran untuk perawatan lin. Mulai dari fisik lin, BBM hingga sparepart lainnya.
Di sisi lain, ojek online (ojol) jadi tantangan lin kuning agar tetap bertahan. “Kalau dahulu, sehari bisa lima sampai enam kali pulang-pergi. Penumpangnya hampir penuh. Tetapi sekarang paling sering tiga kali. Itu pun penumpangnya anak sekolah dan pengemis atau pengamen. Masyarakat umum, sangat jarang. Pendapatannya jadi tidak menentu,” keluhnya, Selasa (23/4).
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jember Agus Wijaya menyampaikan, kepatuhan menjadi hal yang cukup sulit dilakukan. Sehingga banyak lin tak laik jalan tetapi memaksa tetap beroperasi. Padahal, dari kondisinya fisik, terlihat lin sudah tidak laik. “Dari bodinya saja, sudah banyak yang tidak laik. Belum dicek rem, roda, klakson, lampu dan lainnya,” terangnya.
Pihaknya mengimbau agar para pengemudi dan pemilik kendaraan, khususnya angkutan umum atau plat kuning termasuk angkutan penumpang dan barang melakukan Uji KIR. Lebih lanjut, pemerintah telah membebaskan biaya retribusi pelaksanaan Uji KIR tersebut.*
Fotografer: Sidkin Ali
Penulis: Sidkin Ali
Editor: Ainul Budi
Halaman
Bagikan ke: