Selasa, 06 Oktober 2026

:
:
Kisah Pahlawan Bura Jember, Pendekar Jatian yang Dibakar Hidup-Hidup oleh Belanda
Jember
Kisah Pahlawan Bura Jember, Pendekar Jatian yang Dibakar Hidup-Hidup oleh Belanda

Setelah mengalami kesulitan menangkapnya, menurut cerita masyarakat, Belanda menyandera ibu Bura untuk mengetahui kelemahan sang pejuang.

Pada usia sekitar 50 tahun, Bura akhirnya ditangkap pada 26 Maret 1948. Buang Mujiono, Ketua FKPPI Kecamatan Pakusari, mengatakan Bura ditangkap setelah dikhianati oleh mata-mata Belanda dari kalangan pribumi.

“Beliau ditangkap setelah dikhianati oleh orang pribumi sendiri, yang menjadi mata-mata Belanda,” jelas Buang.

Setelah ditangkap, Bura diarak dari wilayah Kalisat hingga kembali ke Desa Jatian. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Bura kemudian dibakar hidup-hidup di tepi Sungai Jatian hingga gugur.

“Karena disandera adalah sang ibu, maka Bura harus merelakan nyawanya, dan menceritakan kelemahannya. Tepat 26 Maret 1948, Pahlawan Bura akhirnya gugur dengan dibakar hidup-hidup hingga menjadi abu, di pinggir Sungai Jatian,” cerita Buang.

Meski tidak tercatat sebagai anggota TNI karena berstatus pemimpin laskar rakyat, kisah perjuangan Bura tetap dikenang masyarakat.

Untuk menghormati jasanya, teman seperjuangannya, almarhum Basri, membangun Monumen Bura di lokasi yang diyakini menjadi tempat gugurnya sang pejuang.

“Untuk mengenang jasa-jasanya, teman seperjuangan Bura, almarhum Pak Basri membuatkan monumen Bura, di sekitar tempat pembakaran Bura, dipinggir sungai Desa Jatian,” kata Hafidzi.

Monumen Bura berada sekitar 13 kilometer dari pusat Kota Jember dan berada di dekat aliran sungai yang dikelilingi pepohonan bambu. Di dalam kawasan tersebut terdapat tiga bangunan, salah satunya monumen bertuliskan “Merdeka atau Mati” dan bangunan menyerupai Monumen Nasional dengan tulisan “Monumen Bura”.

Kawasan monumen dapat dikunjungi secara gratis dan kerap didatangi masyarakat untuk belajar sejarah maupun melakukan tabur bunga. Selain mengenang perjuangan Bura, pengunjung juga dapat menikmati suasana tenang di sekitar sungai.

Namun, jumlah pengunjung disebut mulai berkurang dalam beberapa tahun terakhir. Istri almarhum Basri, Hatimah, tetap datang setiap sore untuk menjaga sekaligus membersihkan kawasan monumen yang mulai mengalami kerusakan.

“Semoga di lain waktu ada perbaikan. Soalnya, monumen ini sudah usang dan butuh perawatan,” ujarnya.

 

Keterangan Foto: Monumen Bura di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari. (Dok. Radar Jember)

Penulis: Tahnia Landora Carravela Pakpahan

Halaman

1   2  

Bagikan ke:

Berita Terkait