Selasa, 06 Oktober 2026

:
:
Kisah Pahlawan Bura Jember, Pendekar Jatian yang Dibakar Hidup-Hidup oleh Belanda
Jember
Kisah Pahlawan Bura Jember, Pendekar Jatian yang Dibakar Hidup-Hidup oleh Belanda

Radarjember.net – Kabupaten Jember menyimpan banyak kisah perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satu cerita yang masih hidup hingga kini adalah perjuangan P. Burah atau Bura, pemimpin laskar rakyat asal Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, yang dikenal berani melawan penjajah Belanda.

Bura diperkirakan lahir sekitar awal 1900-an dan telah dikenal sejak muda karena keberanian serta kemampuan kanuragannya.

Sosoknya selalu identik dengan celurit yang dibawa ke mana pun dan membuat namanya disegani masyarakat sekaligus ditakuti Belanda.

Pengaruh Bura tidak hanya dikenal di Desa Jatian, tetapi juga meluas hingga wilayah Kalisat, Mayang, dan Ledokombo.

Kharisma dan keberaniannya membuat Bura dipercaya menjadi pemimpin laskar rakyat di kawasan Jember Utara.

“Pak Bura sangat terkenal berani, kebal senjata dan memiliki senjata celurit,” kata Ustaz Fikri, warga sekitar Monumen Bura di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, dilansir pada 2018 lalu.

Berbagai kisah tentang keberanian Bura berkembang dari cerita para sesepuh dan saksi hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satunya menyebutkan bahwa Bura tetap bertahan menjaga wilayah pedalaman Jember Utara saat pasukan Brigade III/Divisi I Damarwulan yang dipimpin Moch Sroedji menjalankan perintah hijrah.

“Dia betul-betul luar biasa keberaniannya, luar biasa ilmu kanuragannya. Ia paling ditakuti Belanda, sekaligus paling diincar. Ini cerita yang berkembang dari saksi hidup, dan tersebar dari mulut ke mulut,” kata Taufiqi, warga Desa Pakusari.

Cerita perjuangan Bura terus hidup di tengah masyarakat Jatian dan wilayah sekitarnya.

KH Muhammad Hafidzi Kholis mengaku mengetahui kisah tersebut dari para sesepuh desa yang sejak lama menceritakan perjuangan Bura di tiga kecamatan, yakni Pakusari, Kalisat, dan Mayang.

“Saya mengetahui cerita pahlawan Bura, dari para sesepuh Desa Jatian, sudah sangat kesohor, terutama di 3 Kecamatan Jember Utara, yakni Kecamatan Pakusari, Kalisat, dan Kecamatan Mayang,” ucap Hafidzi.

Berkat pengaruhnya yang besar, Belanda menjadikan Bura sebagai salah satu target utama saat memasuki wilayah Jember Utara pada Juli 1947.

Halaman

1   2  

Bagikan ke:

Berita Terkait