Jawab Krisis Sampah, Mahasiswa Polije Inovasikan Alat Daur Ulang Plastik Menjadi Bensin
JEMBER, Radarjember.net – Keprihatinan terhadap tumpukan sampah plastik yang terus menggunung di lingkungan sekitar mendorong Naufal, mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije), untuk menciptakan solusi inovatif.
Melalui proyek eksperimentalnya, Naufal berhasil mengembangkan alat yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar cair setara bensin.
Proyek yang ia kerjakan sejak 20 Agustus lalu ini bukan sekadar tugas akademik. Bagi Naufal, ini adalah langkah nyata untuk mengatasi dua masalah sekaligus: mengurangi volume sampah anorganik dan menciptakan sumber energi alternatif.
“Proyek ini bukan hanya sebagai inovasi belaka, tetapi merupakan upaya untuk mengubah sesuatu yang merusak lingkungan menjadi bermanfaat,” ujar Naufal saat menjelaskan konsep di balik karyanya, Selasa (30/9/2025).
“Sampah plastik yang butuh ratusan tahun untuk terurai ternyata bisa kita konversi menjadi bahan bakar hanya dalam beberapa jam.” tambahnya.
Alat yang dirancang Naufal bekerja menggunakan metode pirolisis, yakni proses pemanasan bersuhu tinggi tanpa oksigen untuk memecah rantai polimer pada plastik.
Secara sederhana, sampah plastik yang sudah dibersihkan dan dicacah dimasukkan ke dalam reaktor tabung. Reaktor tersebut kemudian dipanaskan hingga suhu mencapai 400–500 derajat Celsius.
Uap yang dihasilkan dari proses tersebut dialirkan melalui pipa kondensor untuk didinginkan hingga berubah menjadi cairan. Cairan inilah yang menjadi bahan bakar minyak (BBM) setara bensin atau solar.
“Dari hasil uji coba saya, 1 kilogram sampah plastik jenis polystyrene (PS), seperti gabus bekas kemasan elektronik atau wadah makanan sekali pakai, bisa menghasilkan sekitar 700–800 mililiter bahan bakar cair,” jelasnya.
Naufal menambahkan, bahan bakar hasil produksinya telah berhasil diuji coba untuk menyalakan mesin generator kecil.
Inovasi ini mendapat apresiasi dari dosennya di Jurusan Teknik, Aditya Wahyu Pratama ST. MT. Ia menilai proyek tersebut memiliki potensi besar.
“Apa yang dilakukan Naufal adalah contoh nyata bagaimana ilmu teknik bisa diterapkan langsung untuk menjawab isu lingkungan. Ini adalah embrio teknologi tepat guna yang jika dikembangkan, bisa diaplikasikan di tingkat desa atau bahkan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST),” tuturnya.
Naufal kini berencana menyempurnakan alatnya agar lebih efisien dan mampu memproses kapasitas sampah lebih besar.
Ia berharap inovasinya kelak tidak hanya berhenti sebagai prototipe, tetapi bisa benar-benar diimplementasikan di masyarakat. (dfd/hrd)
Bagikan ke: