Menteri UMKM Hadir di Jember, Harapkan Usaha Besar Gandeng Banyak Industri Kecil hingga Petani
KEPATIHAN, Radarjember.net - Kementerian UMKM RI terus mengembangkan strategi pemberdayaan ekonomi melalui pembentukan UMKM Holding. Ini dinyatakan Menteri UMKM RI Maman Abdurahman secara langsung dalam Forbis di Aula Bank Jatim, kemarin (5/7).
Maman menyampaikan, program UMKM Holding didesain untuk mengonsolidasikan pelaku usaha mikro dalam satu sistem terintegrasi yang berorientasi pasar dan mampu menarik dukungan pembiayaan. "Kalau secara teori ekonomi itu namanya inclusive business system," paparnya.
Dalam penjelasannya, Maman mencontohkan model UMKM Holding yang telah berjalan di Mitra Tani 27 Jember. Contoh nyata usaha yang telah melibatkan lima ratusan petani dan 80 UMKM. Masing-masing UMKM menyerap tenaga pekerja.
"Itu salah satu konsep yang bagus sekali sudah berjalan pemberdayaan dari hulu sampai ke hilir,” jelasnya.
Maman menyebutkan bahwa konsep ini tidak hanya ditujukan bagi UMKM yang sudah mapan, tetapi juga bisa dipakai di daerah lain yang belum memiliki ekosistem terstruktur. Pembiayaan hingga distribusi pasarnya juga turut didorong. "Supaya lebih meningkat," ujarnya.
Salah satu prinsip utama dalam UMKM Holding adalah kehadiran jaminan pembeli yang menjadi penghubung antara petani, UMKM, dan pasar. Hal ini juga penting untuk membuka akses permodalan dari lembaga keuangan.
“Prinsip dasarnya adalah membuat satu aggregator ataupun ada UMKM yang mungkin dia sudah matang. Dia mengkoordinir, mengumpulkan UMKM menjadi satu sebagai tim," urainya.
Dengan menjalin kemitraan, kata dia, bisa memuluskan UMKM mendapatkan kredit bank. Sebab jaminan pembelinya sudah jelas. "Karena harus dipahami, bank tidak bisa sembarangan mencatut biaya kredit begitu saja kalau tidak ada jaminan off taker," ulas Maman.
Program ini juga menjawab tantangan besarnya jumlah pelaku UMKM di Indonesia, yang menurut data Kementerian UMKM mencapai 57 juta unit usaha, dengan dua individu dalam setiap usaha. Artinya menyokong lebih dari 114 juta orang. Sementara di Jember, jumlah UMKM lebih dari enam ratusan.
Disebutkan, UMKM mampu berkontribusi 60 persen terhadap PDB negara. "Harapannya dengan ada sistem ini pengusaha-pengusaha mikro yang ada di kampung, petani-petani, mereka jadi punya bapak asuh. Mereka jadi punya kantor atau usaha yang pasti mengambil produk mereka. Pada saat itu terjadi, bank pun bisa ikut memberikan bantuan pinjaman pembiayaan,” tutupnya.
Sementara, Vice president Kredit Mikro Bank Jatim, Kamiliah mengatakan, inginkan UMKM di Jawa Timur ini naik kelas. Dari yang awalnya berjualan di daerah sekitar, naik ke nasional, hingga tembus pasar internasional. “Agar naik kelas itu tidak mudah, harus ada perjuangan termasuk mengikuti pelatihan hingga meningkatkan kualitas produk,” terangnya.
Ketua UKM IKM Nusantara Jatim, Rendra Wirawan, mengatakan, perlu adanya data base UKM ataupun IKM yang benar dan tepat. Agar negara itu tahu bagaimana kekuatan UKM dan IKM dan selanjutnya mengeluarkan kebijakan yang tepat pula. “Dengan satu data base itu punya kekuatan bersama dan menyelesaikan bersama persoalan UKM dan IKM,” paparnya.
Sementara, Pj Ketua HIPMI Jember, Yoga Satria, mengadakan forum bisnis ini sebagai wadah aspirasi kebutuhan pelaku usaha atau UMKM. “Harapannya dalam forum ini, kebutuhan pelaku usaha ini terpenuhi dan terjawab,” harapnya. (sil/dwi)
Bagikan ke: